Senja Di Ujung Jembatan Harapan


Namaku Zara. Aku tinggal di desa kecil di tepi sungai pulau Aceh. Mimpiku? Mengubah nasib keluargaku. Setiap hari, aku bantu Ibu jual kue di pasar. Hidup memang berat, tapi aku tak mau menyerah.

 

Sore itu, seperti biasa, aku ke Jembatan Harapan. Tempat favoritku. Di sana, aku bisa merenung, lihat senja yang indah. Aku sering membayangkan diriku sukses, bisa bahagiakan Ibu dan adik-adik.

 

Tiba-tiba, seorang pria tua menghampiriku. "Sendirian saja, Nak ?" sapanya ramah.

 

"Iya, Pak," jawabku sopan. "Saya suka lihat senja di sini."

 

"Saya Ahmad," katanya sambil tersenyum. "Saya seorang penulis. Sedang mencari inspirasi."

 

Kami mulai bicara. Aku cerita tentang hidupku, tentang mimpiku. Tuan Ahmad mendengarkan dengan seksama.

 

"Kamu punya bakat menulis, Zara," ujarnya tiba-tiba. "Mau jadi muridku?"

 

Aku terkejut. "Saya? Jadi penulis? Tapi saya hanya penjual kue, Pak."

 

"Bakat itu tidak mengenal latar belakang," balasnya. "Kalau kamu mau, saya akan mengajarimu."

 

Tentu saja aku mau! Aku sangat senang. "Benarkah, Pak ? Saya mau sekali!"

 

Sejak itu, aku belajar menulis dengan giat. Tuan Hasan membimbingku dengan sabar. "Coba deskripsikan senja itu, Zara. Apa yang kamu rasakan?" tanyanya suatu hari.

 

"Senja itu... seperti harapan, Pak. Walau gelap akan datang, selalu ada janji esok yang lebih baik," jawabku.

 

Pak Ahmad tersenyum. "Bagus! Teruslah menulis dengan hatimu."

 

Setelah beberapa bulan, aku berhasil menulis cerpen. "Bagaimana menurut Bapak ?" tanyaku gugup saat menyerahkannya.

 

Pak Ahmad membacanya dengan seksama. "Ini bagus sekali Zara, Kita kirim ke majalah sastra, ya?"

 

Tak lama kemudian, aku dapat kabar cerpenku diterima, Aku tak percaya. "Pak, ini benar?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

 

"Benar, Zara Kamu hebat!" jawab Tuan Hasan sambil tersenyum bangga.

 

Cerpenku mendapat banyak pujian. Aku jadi terkenal, dapat tawaran menulis buku. Aku benar-benar tak menyangka.

 

Dengan kesuksesanku, aku bisa mengubah nasib keluargaku. "Ibu, kita pindah ke rumah yang lebih bagus, ya?" kataku suatu hari.

 

Ibu menangis haru. "Zara, Nak... Ibu bangga sekali padamu."

 

Aku juga menyekolahkan adik-adikku hingga perguruan tinggi. Aku terus menulis, menghasilkan karya yang dapat menginspirasi banyak orang.

 

Setiap kali aku lelah atau putus asa, aku kembali ke Jembatan Harapan. Aku memandangi senja, mengingat perjuanganku. Aku sadar, kesuksesan butuh kerja keras dan keyakinan.

 

"Terima kasih, Jembatan Harapan," bisikku. "Kau selalu menjadi saksi bisu perjalananku."

 

Kisahku menjadi inspirasi bagi banyak orang di desaku. Mereka belajar bahwa mimpi bisa diraih, asal kita berani memperjuangkannya.

Komentar

Postingan Populer