Manisnya Kolak Manisnya Kebersamaan

 

Manisnya Kolak, Manisnya Kebersamaan

Oleh : Rifa Faiza

 

Sore itu, faila berlari kecil menuju dapur.

           

"Ibu, kita masak apa buat takjil hari ini?" tanyanya penuh semangat. Ibunya tersenyum sambil mengaduk kolak pisang.

            "Hari ini kita buat lebih banyak. Ibu ingin berbagi dengan tetangga, terutama Pak Rahmat."

 

faila mengangguk paham. Pak Rahmat adalah tetangga mereka yang sudah tua dan tinggal sendiri di rumah kecil di ujung gang. Sejak istrinya meninggal, ia sering berbuka puasa sendirian.

 

Saat adzan Maghrib berkumandang, Faila dan ibunya berjalan menuju rumah Pak Rahmat, membawa sepiring kolak dan beberapa gorengan. Sesampainya di sana, mereka mengetuk pintu.

 

Pak Rahmat membukanya perlahan. Wajahnya terkejut sekaligus hangat melihat kedatangan mereka.

"MasyaAllah, ini untuk saya?"

"Iya, Pak Rahmat. Semoga bisa menemani buka puasanya," kata ibu Faila lembut.

Pak Rahmat tersenyum, matanya berkaca-kaca.

            "Terima kasih, Nak. Sejak istriku pergi, baru kali ini ada yang membawakan takjil untukku. Rasanya seperti berbuka bersama keluarga lagi."

 

Faila merasakan kehangatan di dadanya. Malam itu, ia belajar bahwa berbagi sekecil apa pun, bisa menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Dan Ramadhan, lebih dari sekadar menahan lapar dan tentang mempererat tali silaturahmi.

 

Komentar

Postingan Populer