Di Balik Jas Putih

 Namaku Arini. Aku seorang dokter umum di sebuah rumah sakit pemerintah di pinggiran kota. Setiap pagi, sebelum matahari sempurna naik, aku sudah mengenakan jas putih dan menyapa dunia dengan senyum tipis. Tapi tak banyak yang tahu, senyum itu kadang hanya sisa dari malam yang tak sempat menangis.

Di balik jas putih ini, aku bukan hanya dokter. Aku anak sulung dari tiga bersaudara, ibu bagi dua anak kecil, dan istri dari lelaki yang sudah pergi tanpa pamit, meninggalkan rumah dan janji.

Pekerjaanku dimulai pukul tujuh pagi. Saya memeriksa pasien dengan berbagai keluhan: batuk, demam, tekanan darah, luka-luka ringan. Tapi yang paling sering kutemui bukan hanya sakit fisik—melainkan kelelahan hidup, rasa takut, dan kesepian.

Seorang ibu tua datang kemarin. Ia duduk di bangku pemeriksaan, pandangan sendu.

"Saya pusing, Dok. Tapi mungkin sebenarnya saya hanya kesepian," katanya lirih.

Saya hanya bisa tersenyum dan meresepkan lebih dari sekedar obat. Aku memberi waktu lebih untuk mendengarnya. Karena aku tahu, tak semua yang datang membutuhkan obat. Kadang-kadang mereka hanya membutuhkan seseorang untuk peduli.

Tapi siapa yang menyembuhkan seorang dokter?

Malam hari adalah waktu paling sunyi. Setelah anak-anakku tidur dan semua pekerjaan rumah selesai, aku duduk sendiri. Merenung. Mencoba mengingat wajah-wajah pasien yang kutemui hari itu. Beberapa membuatku tersenyum. Beberapa membuat saya ingin menangis.

Ada satu pasien remaja, Rafi, yang menderita leukemia. Setiap kali ia datang untuk perawatan, ia bertanya, “Bu Dokter, apa aku akan sembuh?”

Aku tidak bisa berbohong. Tapi aku juga tidak jujur ​​sepenuhnya.

“Mungkin belum sekarang, Rafi. Tapi kita terus berusaha ya?” Itu jawabanku—jawaban netral, aman, tapi juga penuh harap.

Rafi adalah pengingat bahwa dalam profesi ini, kita tidak sedang membayangkan-pura jadi Tuhan. Kita hanya manusia—yang berusaha, dan berdoa bersama.

Ada kalanya aku merasa ingin menyerah. Ketika pasien meninggal meski sudah berjuang. Ketika keluarga mereka menyalahkan kami. Ketika lembur tanpa henti tapi gaji tak cukup. Ketika anak-anakku sakit tapi aku tak sempat mendampingi karena ada pasien yang lebih kritis.

Tapi di tengah semua itu, aku selalu ingat satu hal: mengapa aku memilih jalan ini.

Dulu, ibuku pernah berkata, “Jangan jadi dokter kalau kamu hanya ingin dihormati. Jadilah dokter kalau kamu ingin melayani.”

Itu kutanam dalam hati. Maka meski kadang lelah, kadang ingin berhenti, aku terus berjalan. Karena di balik jas putih ini, ada hati yang belajar menerima. Ada cinta yang diam-diam tumbuh untuk orang-orang yang bahkan tidak kukenal sebelumnya. Dan ada keyakinan, bahwa mungkin, satu tindakan kecil bisa menyelamatkan dunia seseorang.

Aku seorang dokter. Aku bukan penyelamat, bukan pahlawan. Aku hanya perempuan biasa yang memakai jas putih, berjalan di lorong-lorong rumah sakit, mencoba menyembuhkan orang lain—sambil perlahan menyembuhkan diri sendiri.

Komentar

Postingan Populer