Senja Di Ujung Jembatan Harapan
Namaku Zara. Aku tinggal di desa kecil di tepi sungai pulau Aceh. Mimpiku? Mengubah nasib keluargaku. Setiap hari, aku bantu Ibu jual kue di pasar. Hidup memang berat, tapi aku tak mau menyerah. Sore itu, seperti biasa, aku ke Jembatan Harapan. Tempat favoritku. Di sana, aku bisa merenung, lihat senja yang indah. Aku sering membayangkan diriku sukses, bisa bahagiakan Ibu dan adik-adik. Tiba-tiba, seorang pria tua menghampiriku. "Sendirian saja, Nak ?" sapanya ramah. "Iya, Pak," jawabku sopan. "Saya suka lihat senja di sini." "Saya Ahmad," katanya sambil tersenyum. "Saya seorang penulis. Sedang mencari inspirasi." Kami mulai bicara. Aku cerita tentang hidupku, tentang mimpiku. Tuan Ahmad mendengarkan dengan seksama. "Kamu punya bakat menulis, Zara," ujarnya tiba-tiba. "Mau jadi muridku?" Aku terkejut. "Saya? Jadi penulis? Tapi saya hanya penjual kue, Pak." "Bakat itu tidak mengenal latar...